Cahaya Harus Mengikat Lengannya untuk Memerankan Budak
Penjara itu tidak seperti umumnya
Tempat itu seperti pasar
Tapi tidak ada
pintu keluarnya; sesat dan menyesakkan
Penghuninya tidak bukan
bayangan
yang mematikan tapi memaksanya harus hidup
Perlahan terseok,
Cahaya berjalan dengan tangan kakinya terikat, ia pun kehilangan pita suara.
Cukup nyaring jeritnya, tapi didengarkannya sendiri suara hatinya itu.
Tugas pertamanya;
Mulai mengaktifkan alarm ponsel per satu jam sekali hampir 24 jam penuh.
Terbangun sebelum subuh, mandi dan sholat subuh. Dengan mata berkaca-kacanya ia mulai sepakat perbudakannya.
Tugas keduanya;
Diambilnya beras 4 sloki ditanaknya. Lalu mulai memanaskan sayur lauknya.
Tugas ketiganya;
Mengumpulkan baju kotor; untuk siap diambil londry... atau menyapu halaman di subuh itu.
Tugas keempatnya;
Harus membisu di sudut ruang menunggu dhuha. Ya, ini lebih baik. Atau harus membersihkan sepatu dan menyemirnya.
Ya.
Itu kukira menyiapkan baju, dan persiapan bawaan.
Tugas kelimanya;
Jika sarapan di meja, pikirkan makan siang harus siap di meja pula nanti.
Ingatkan harus di meja makan di pagi, siang, atau sore.
Tugas keenamnya;
Membersihkan setiap sudut rumah. Dan mengurung diri kembali menyimpan lelah. Berbaring. Dan mengingat setiap jam alarm untuk selalu ada pekerjaan.
STOP TIDUR
STOP JADI RATU
STOP JADI ENAK karena itu dianggap SEENAKNYA SENDIRI, GAK TAU DIRI, GAK TAHU TANGGUNG JAWAB, GAK TAHU KEWAJIBAN
Ingat! Ponsel 24 jam harus siaga. Terima telepon dan pesan teks harus di siaga terus.
STOP curhat, mengeluh, cerita, sambat.
CAHAYA ITU BUDAK. Simpan duri yang mengoyak kulitmu. Jangan sisihkan. Nikmat sakit itu.
Karena, CAHAYA tidak berhak atas apapun.
Heart to Cahaya
Langit tidak nampak terik, cukup lembut bahkan, dibalut angin sepoi-sepoi, menembus kulit yang lelah berkeringat, seakan menyejukkan.
Langit berwarna putih, beradu sendu, sore kali ini nyaman untuk berbaring dan merehatkan badan.
Suara pujian setelah azan asar, meliuk cukup santun di telinga. Lamat-lamat terbawa angin, terbawa juga ingatan tentang kenyataan pernikahan seorang Cahaya.
"Aduh. Mulai nih. Ngantuknya!", batin Cahaya.
Waktu menyongsong sore, Cahaya belum mandi. Di kursi ruang tamu ia berbaring sembari terdiam, matanya memejam. Serrr. Cahaya tetiba pulas begitu saja.
Next.
Cuplikan Satu : Nyalakan! Cahaya.
Hari ini kita buat lilinnya ya, Cahaya!
• Datang maghrib
• Pulang subuh
CAHAYA Episode Satu
Perempuan itu telah tenggelam di sebuah danau kecil di belakang rumahnya yang jauh dari pemukiman.
Perempuan paruh baya yang malang. Tak sempat teriakan tolongnya diperdengarkan siapapun, perempuan itu masih sempat geming untuk apa dia selamat.
Detik demi detik seperti kesakitan yang tidak lagi asing, perempuan itu tahu akan hatinya tertikam dalam bahkan lebih dari kubangan danau itu, perempuan itu menarik ingatannya dalam penyesalan yang tak berujung.
Sesuatu yang keluar, tidak mungkin ditarik.
Lebih baik menikmati tenggelam.
Perempuan itu menasehati dirinya sendiri; "jika setelah kepergianmu, langit yang biasa menjadi alasan bulir senyummu mengembang, langit yang kamu anggap milikmu itu, sebenar-benarnya bukan selimutmu melainkan etalase yang sewaktu-waktu merundungmu."
Perempuan itu berjanji tidak bersuara. Setelah tenggelam, kepercayaannya menguap meninggalkan berkat yang terakhir dirindukan.
Categories
Kematian
Langganan:
Komentar (Atom)